SELAMAT DATANG DI PUSKESMAS SINDANG

KECAMATAN SINDANG KABUPATEN INDRAMAYU

SKM & Infografis

Data Survei & Informasi Kesehatan

Berita Terbaru

Kabar & Kegiatan Puskesmas

Layanan
Dari Kami

Lihat Semua

Pelayanan Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK)

Selengkapnya

Pelayanan Kesehatan Lingkungan (Kesling)

Selengkapnya

Pelayanan Klaster 2 (Kesehatan Ibu dan Anak)

Selengkapnya

Pelayanan Klaster 3 (Dewasa dan Lansia)

Selengkapnya
Beranda / Berita / Waspada Hantavirus: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan Menurut WHO

Waspada Hantavirus: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan Menurut WHO

Mei 12, 2026
Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK

Hantavirus, virus dari tikus, penyakit zoonosis, infeksi hantavirus, gejala hantavirus, pencegahan hantavirus,


PUSKESMAS SINDANG, Indramayu - Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah strain Andes dilaporkan memiliki potensi penularan antarmanusia, meskipun tergolong jarang. Artikel ini bersumber dari Alodokter yang merangkum berbagai fakta ilmiah mengenai virus zoonosis mematikan ini.

Hantavirus adalah kelompok virus yang menyebabkan gangguan serius pada paru-paru, yang dikenal dengan sindrom hantavirus pulmonary syndrome (HPS), atau menyebabkan gangguan pada pembuluh darah dan ginjal, yang disebut hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Virus ini dibawa dan disebarkan oleh tikus serta hewan pengerat lainnya, menjadikannya ancaman tersembunyi di lingkungan kumuh atau area rawan tikus.

Sebagai penyakit zoonosis, penularan hantavirus ke manusia tidak terjadi begitu saja. Infeksi umumnya muncul melalui kontak langsung dengan feses, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Yang menarik, hantavirus memiliki berbagai jenis atau strain yang tersebar di berbagai belahan dunia. 

Belakangan ini, strain Andes asal Amerika Selatan menjadi sorotan utama para ahli epidemiologi. Pasalnya, strain ini diduga lebih mudah menular dibandingkan jenis hantavirus lainnya. 

Berbeda dengan kebanyakan hantavirus yang hanya menular dari hewan pengerat ke manusia, strain Andes dalam beberapa kasus langka terbukti dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan dengan individu yang terinfeksi.

Meskipun demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa penularan antarmanusia pada strain Andes ini masih tergolong sangat jarang. Risiko penyebarannya ke masyarakat umum pun tetap rendah.

 Kabar baiknya, hingga Mei 2026, strain Andes hantavirus belum ditemukan di Indonesia. Kasus hantavirus yang pernah dilaporkan di Nusantara umumnya berkaitan dengan strain Seoul virus (SEOV), yang penularannya terjadi secara klasik dari tikus ke manusia, bukan antarmanusia.

Meski jarang, penyakit ini tidak bisa dianggap remeh. Tingkat kematian akibat HPS mencapai angka mengerikan, sekitar 40%, sementara HFRS memiliki tingkat fatalitas sekitar 5–15%. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan.

Penyebab dan Faktor Risiko Infeksi Hantavirus

Penyebab utama infeksi ini adalah paparan terhadap virus yang disebarkan tikus. Meski penularan antarmanusia sangat jarang, ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang terinfeksi:

  1. Menyentuh langsung feses, liur, atau urine tikus yang terinfeksi.
  2. Menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi virus (aerosol).
  3. Mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi hantavirus.
  4. Luka akibat gigitan tikus yang terinfeksi.
  5. Menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah kontak dengan benda terkontaminasi tanpa mencuci tangan.

Sementara itu, faktor risiko meningkat pada mereka yang tinggal di area banyak tikus, pekerja konstruksi, petugas pengendalian hama, serta para pecinta alam seperti pendaki gunung dan berkemah.

Gejala Infeksi yang Perlu Diwaspadai

Gejala hantavirus biasanya baru muncul 1–8 minggu setelah terpapar. Gejala dibagi berdasarkan sindrom yang ditimbulkan:

Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Tahap awal: demam, meriang, sakit kepala parah, mual, muntah, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem. Tahap lanjut: sesak napas berat, batuk, detak jantung cepat, hingga edema paru yang bisa menyebabkan syok fatal.

Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Gejala awal: demam, sakit kepala berat, nyeri punggung, pandangan kabur, kemerahan di wajah. Tahap lanjut: tekanan darah rendah, perdarahan, gagal ginjal akut, dan kebocoran plasma.

Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan

Diagnosis ditegakkan melalui tes darah, tes urine, pemindaian dada, hingga tes PCR untuk mendeteksi antigen virus. Pengobatan umumnya dilakukan di unit perawatan intensif, meliputi pemberian oksigen, cairan infus, obat antivirus seperti ribavirin untuk HFRS tahap awal, hingga metode ECMO untuk kasus HPS berat.

Karena hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah hantavirus, pencegahan menjadi benteng utama. Masyarakat diimbau untuk rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, memberantas tikus di rumah, serta menggunakan alat pelindung diri (APD) bagi pekerja berisiko tinggi. 

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala setelah kontak dengan tikus.*

Bagikan Artikel ini: