SELAMAT DATANG DI PUSKESMAS SINDANG

KECAMATAN SINDANG KABUPATEN INDRAMAYU

SKM & Infografis

Data Survei & Informasi Kesehatan

Berita Terbaru

Kabar & Kegiatan Puskesmas

Layanan
Dari Kami

Lihat Semua

Pelayanan Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK)

Selengkapnya

Pelayanan Kesehatan Lingkungan (Kesling)

Selengkapnya

Pelayanan Klaster 2 (Kesehatan Ibu dan Anak)

Selengkapnya

Pelayanan Klaster 3 (Dewasa dan Lansia)

Selengkapnya
Beranda / Berita / Virus Nipah Di Indonesia: Kemenkes Tegaskan Belum Ada Kasus Positif, Kesiagaan Nasional Diperketat!

Virus Nipah Di Indonesia: Kemenkes Tegaskan Belum Ada Kasus Positif, Kesiagaan Nasional Diperketat!

Februari 25, 2026
Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK
Virus Nipah Di Indonesia: Kemenkes Tegaskan Belum Ada Kasus Positif, Kesiagaan Nasional Diperketat!

PUSKESMAS SINDANG - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara resmi menegaskan bahwa hingga saat ini, Indonesia tetap bebas dari kasus terkonfirmasi positif virus Nipah.

Meskipun demikian, serangkaian laporan mengenai kasus suspek telah muncul dari berbagai daerah sepanjang tahun 2024 hingga awal 2026.

Namun, hasil dari setiap pengujian laboratorium yang dilakukan terhadap individu-individu yang dicurigai tersebut secara konsisten menunjukkan indikator negatif.

Kewaspadaan Tetap Jadi Prioritas Utama

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, menekankan pentingnya langkah-langkah pencegahan.

Dalam sebuah diskusi daring di Jakarta yang dilansir Antara pada Selasa, 24 Februari 2026, ia menjelaskan bahwa penularan virus Nipah umumnya terjadi melalui kontak erat.

Oleh karena itu, meskipun risiko penularan di Indonesia dinilai relatif rendah, kewaspadaan dan tindakan pencegahan tetap harus menjadi fokus utama.

Data Kasus Suspek Nipah di Indonesia: Tinjauan Tiga Tahun Terakhir

Berdasarkan catatan Kemenkes, total ada 16 kasus suspek yang telah dipantau secara intensif selama periode tiga tahun terakhir.

Pada tahun 2026, dua laporan kasus suspek teridentifikasi, masing-masing berasal dari wilayah Jawa Tengah dan Sulawesi Utara.

Setahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2025, tercatat sembilan laporan kasus suspek.

Sementara itu, lima kasus suspek lainnya dilaporkan pada tahun 2024.

Sebaran geografis dari temuan kasus suspek ini cukup luas, mencakup provinsi Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, hingga Kalimantan Barat.

Faktor Risiko yang Memicu Kewaspadaan

Meskipun status Indonesia masih nihil dari kasus konfirmasi, Sumarjaya mengingatkan adanya beberapa faktor risiko signifikan yang memerlukan kewaspadaan serius.

Salah satu pemicu utama adalah keberadaan kelelawar buah di Indonesia, yang merupakan inang alami dan reservoir bagi virus Nipah.

Selain itu, kedekatan geografis Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina, yang memiliki riwayat terkait virus ini, turut menjadi perhatian.

Tradisi konsumsi daging kelelawar di beberapa komunitas lokal juga diidentifikasi sebagai potensi jalur transmisi yang tidak boleh diabaikan.

Pemerintah Perketat Pengawasan di Pintu Masuk Negara

Sebagai respons terhadap potensi ancaman ini, pemerintah Indonesia kini meningkatkan fokus pada pengetatan pengawasan di seluruh pintu masuk negara.

Langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini di bandara serta pelabuhan terus diperkuat secara signifikan.

Upaya ini bertujuan untuk memantau ketat setiap mobilitas pendatang yang berpotensi membawa risiko penularan virus Nipah.

Kesiagaan nasional dan tindakan proaktif ini menjadi benteng pertahanan utama Indonesia dari ancaman virus berbahaya ini.

Bagikan Artikel ini: