UPTD Puskesmas Sindang, Indramayu - Diabetes melitus atau penyakit kencing manis merupakan penyakit menahun yang dapat diderita seumur hidup. Diabetes melitus (DM) disebabkan oleh gangguan metabolisme yang terjadi pada organ pankreas yang ditandai dengan peningkatan gula darah atau sering disebut dengan kondisi hiperglikemia yang disebabkan karena menurunnya jumlah insulin dari pankreas.
Penyakit DM dapat menimbulkan berbagai komplikasi baik makrovaskuler maupun mikrovaskuler. Penyakit DM dapat mengakibatkan gangguan kardiovaskular yang dimana merupakan penyakit yang terbilang cukup serius jika tidak secepatnya diberikan penanganan sehingga mampu meningkatkan penyakit hipertensi dan infark jantung.
Diabetes merupakan masalah kesehatan global. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2015 sebanyak 415 juta orang dewasa memiliki diabetes dan diperkirakan akan terjadi peningkatan pada tahun 2040 sebanyak 642 juta. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki prevalensi Diabetes sebanyak 10 juta kasus.
Apa Penyebab Diabetes Melitus?
Penyebab diabetes melitus bervariasi tergantung pada tipe diabetesnya. Berikut adalah beberapa faktor penyebab untuk masing-masing tipe :
1. Diabetes Tipe 1
Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kerusakan sel-sel pankreas yang menghasilkan insulin, yang biasanya disebabkan oleh respons autoimun. Faktor-faktor berikut dapat mempengaruhi antara lain :
- Faktor genetik, Riwayat keluarga dengan diabetes tipe 1 dapat meningkatkan risiko.
- Infeksi virus, Beberapa infeksi virus mungkin memicu respons autoimun yang merusak sel penghasil insulin.
- Lingkungan, Faktor lingkungan tertentu, seperti paparan bahan kimia atau diet tertentu dapat berkontribusi.
2. Diabetes Melitus tipe 2
Pada diabetes tipe 2, tubuh menjadi resisten terhadap insulin atau pankreas tidak memproduksi insulin yang cukup. Penyebabnya sering kali terkait dengan faktor gaya hidup dan genetik ;
- Obesitas
- Usia
- Kurang aktifitas fisik
- Faktor genetik
- Diet buruk
- Tekanan darah tinggi
- Kadar kolesterol tidak normal
3. Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional terjadi pada wanita hamil dan biasanya hilang setelah melahirkan. Namun, ini meningkatkan risiko berkembangnya diabetes tipe 2 di masa depan, Penyebabnya termasuk perubahan hormon selama kehamilan yang dapat menganggu cara tubuh menggunakan insulin.
4. Faktor Lain
Sindrome metabolic, Kondisi yang mencakup obesitas perut, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Penyakit lain, Beberapa kondisi medis, seperti sindrom ovarium polikstik (PCOS) atau gangguan tiroid, dapat meningkatkan risiko diabetes.
Perbedaan Pemeriksaan Glukosa Darah dan HbA1C
Pemeriksaan gula darah pada penyakit DM dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pemeriksaan Gula Darah Puasa (GDP), Pemeriksaan Gula Darah 2 jam Postprandial (GD2PP), pemeriksaan Glukosa Darah Acak (GDA), dan pemeriksaan HbA1c.
Status nilai GDP dan HbA1c dapat dijadikan acuan penilaian status gula darah pada pasien.
- Tes glukosa darah puasa adalah pemeriksaan kadar gula darah yang dilakukan setelah seseorang berpuasa selama setidaknya 8 jam, biasanya silakukan di pagi hari setelah tidur semalam. Tes ini digunakan untuk menilai bagaimana tubuh mengatur kadar gula darah tanpa pengaruh makanan atau minuman.
- Tes glukosa darah acak adalah pemeriksaan kadar gula darah yang dilakukan tanpa memperhatikan waktu makan atau puasa sebelumnya. Tes ini dugunakan untuk memberikan gambaran tentang seberapa baik tubuh mengatur kadar gula darah dalam kondisi normal, tanpa pengaruh makanan terakhir yang dikonsumsi.
- Tes glukosa darah 2 jam Postprandial (GD2JPP) adalah kadar gula darah yang diukur 2 jam setelah seseorang makan. Fungsinya untuk menilai respons peningkatan kadar gula darah setelah makan, mendeteksi prediabetes atau diabetes, memantau terapi obat dan mendiagnosis ada tidaknya ganguan metabolisme.
- HbA1C (hemoglobin A1c) adalah tes yang mengukur rata-rata kadar gula darah seseorang selama 2-3 bulan terakhir. Tes ini mengukur persentase hemoglobin (protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen) yang terikat pada glukosa. Semakin tinggi kadar gula darah seseorang dalam periode tersebut, semakin banyak glukosa yang terikat pada hemoglobin, yang meningkatkan nilai HbA1c.
Berikut adalah rentang hasil tes HbA1c yang umum digunakan :
- Normal : di bawah 5.7%
- Prediabetes : 5.7% - 6.4%
- Diabetes : 6.5% atau lebih
Sumber berita : https://www.infolabmed.com/2025/01/diabetes-melitus-pemeriksaan-glukosa-darah-dan-hba1c-apa-bedanya-sobita-tyas-widyarini-3242103-stikes-nasional-surakarta.html