PUSKESMAS SINDANG, Indramayu – Pemenuhan nutrisi ibu hamil bukan sekadar menjaga kesehatan calon ibu, melainkan investasi mendasar untuk masa depan generasi.
Hal ini menjadi kunci sentral dalam upaya pencegahan stunting, sebuah isu kesehatan yang berdampak jangka panjang. Pemaparan dilakukan oleh Bidan Susan Susilawati dan Ahli Gizi Ibu Nurchamidah pada kegiatan edukasi stunting di Puskesmas Sindang, Indramayu, 2 Februari 2026.
Dalam pemaparannya, Bidan Susan Susilawati menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum anak lahir.
"Stunting dapat dicegah dengan intervensi tepat pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Fase ini dimulai sejak janin dalam kandungan. Nutrisi ibu hamil memegang peranan paling vital pada tahap awal ini," ujarnya.
Ia menegaskan, stunting bukan sekadar persoalan fisik atau tinggi badan anak yang terhambat, tetapi lebih mengkhawatirkan lagi adalah dampaknya pada perkembangan kognitif dan otak anak.
Konsep 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang mencakup masa 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama kehidupan anak (hingga usia 2 tahun) digambarkan oleh para ahli di Puskesmas Sindang sebagai "masa emas" atau "golden period" yang tidak akan terulang.
Ahli Gizi, Ibu Nurchamidah, melanjutkan, "Yang dimaksud dengan intervensi di 1000 HPK adalah pemberian asupan nutrisi gizi seimbang dan menjaga sanitasi yang baik, secara konsisten dari sejak ibu hamil sampai anak berumur 2 tahun. Fondasi yang dibangun di periode inilah yang menentukan kualitas hidup anak selanjutnya."
Nurchamidah memaparkan, pada fase ibu hamil, kebutuhan zat gizi mikro seperti zat besi, asam folat, protein, dan kalsium meningkat signifikan. Kekurangan zat-zat ini dapat mengganggu perkembangan janin dan berpotensi menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), yang merupakan salah satu pintu masuk kondisi stunting.
"Asupan gizi seimbang bagi ibu hamil adalah langkah pertama dan terpenting. Ini tentang kualitas, bukan hanya kuantitas makanan," tegasnya.
Setelah lahir, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan menjadi tahapan krusial berikutnya. ASI mengandung semua nutrisi dan antibodi yang dibutuhkan untuk perkembangan optimal bayi.
"ASI eksklusif adalah vaksin alami pertama dan terbaik untuk bayi, sekaligus bentuk kelanjutan dari pemberian nutrisi optimal yang dimulai sejak kehamilan," jelas Bidan Susan.
Memasuki usia enam bulan, anak mulai dikenalkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Di sinilah kesalahan sering terjadi. MPASI harus memenuhi kaidah gizi seimbang, tepat waktu, dan diberikan dengan pola asuh yang benar.
"MPASI yang tidak tepat, baik dari segi jenis, tekstur, maupun frekuensi, dapat mengganggu pertumbuhan dan memicu stunting. Pola asuh yang penuh perhatian dan stimulasi juga bagian dari 'nutrisi' untuk otak anak," tambah Nurchamidah.
Sebagai penutup, Bidan Susan memberikan penjelasan penting untuk meluruskan miskonsepsi yang beredar di masyarakat.
"Perlu dipahami, stunting dan perawakan pendek (cebol) itu berbeda secara fundamental. Anak dengan stunting, perkembangan otaknya ikut terhambat, yang dapat berdampak pada kemampuan kognitif dan belajarnya di kemudian hari. Sementara anak yang secara genetik bertubuh pendek (cebol), jika gizinya baik, otaknya dapat berkembang optimal dan mencapai kecerdasan seperti anak normal, bahkan jenius."
Edukasi dari Puskesmas Sindang ini menyimpulkan bahwa pencegahan stunting adalah sebuah mata rantai yang dimulai dari kesadaran ibu hamil akan pentingnya gizi.
Dengan memastikan setiap tahapan 1000 Hari Pertama Kehidupan—dimulai dari kandungan, ASI eksklusif, hingga MPASI dan pola asuh—dilakukan dengan benar, masyarakat dapat memutus siklus stunting dan melahirkan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga cerdas dan berdaya saing.*

.png)